Manila: Nurdin Pernah Atur Pertandingan
Sabtu, 08 Januari 2011 | 17:58 WIB
Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid.
Mantan pengurus PSSI Bidang Wasit, IGK Manila, mengatakan, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid pernah mengatur sebuah pertandingan sepak bola dari penjara. Saat itu Nurdin meminta pergantian wasit di ajang PON Kalimantan Timur.
Kala itu, menurut Manila, berlangsung pertandingan final sepak bola Jawa Timur melawan Papua. Sepuluh menit sebelum pertandingan, Nurdin menelepon dirinya agar wasit segera diganti.
"Dalam 10 menit sebelum pertandingan dia (Nurdin) nelepon saya dari balik LP Salemba, minta wasit diganti. Alasannya, wasit yang memimpin pertandingan bermasalah saat Liga Indonesia PSM versus Persiwa Wamena, dan untuk menghindari rusuh," ujar Manila saat acara diskusi di kantor ICW, Jakarta, Sabtu (8/1/2011).
Manila menjelaskan dirinya saat itu menolaknya dengan alasan itu tidak benar dilakukan.
"Bapak kenapa minta ganti? Apa gara-gara Bapak orang Makassar dan wasitnya dulu pernah bermasalah dengan PSM? Itu tidak boleh Pak, saya tidak mau. Itu yang saya bilang," katanya.
Lebih jauh Manila menceritakan, saat itu Wakil Presiden Jusuf Kalla juga seharusnya hadir, tetapi tidak memenuhi undangan menonton pertandingan tersebut. "Saat itu, JK juga seharusnya hadir, tapi tidak datang," ungkapnya.
Manila menambahkan, Nurdin dan dirinya pernah berjanji agar tidak menceritakan pengaturan pertandingan yang dilakukan. Akan tetapi, karena Nurdin mulai macam-macam soal sepak bola, akhirnya Manila justru membuka aib tersebut.
"Saya sebenarnya diberi janji oleh Nurdin agar tidak ngomong soal ini, tapi sekarang dia macam-macam. Saya buka sekalian," katanya.
Seperti diketahui, saat PON berlangsung di Kaltim, kontingen Jawa Timur meraih emas di cabang sepak bola dengan mengalahkan Papua 1-0.
Sabtu, 08 Januari 2011 | 17:58 WIB
Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid.
Mantan pengurus PSSI Bidang Wasit, IGK Manila, mengatakan, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid pernah mengatur sebuah pertandingan sepak bola dari penjara. Saat itu Nurdin meminta pergantian wasit di ajang PON Kalimantan Timur.
Kala itu, menurut Manila, berlangsung pertandingan final sepak bola Jawa Timur melawan Papua. Sepuluh menit sebelum pertandingan, Nurdin menelepon dirinya agar wasit segera diganti.
"Dalam 10 menit sebelum pertandingan dia (Nurdin) nelepon saya dari balik LP Salemba, minta wasit diganti. Alasannya, wasit yang memimpin pertandingan bermasalah saat Liga Indonesia PSM versus Persiwa Wamena, dan untuk menghindari rusuh," ujar Manila saat acara diskusi di kantor ICW, Jakarta, Sabtu (8/1/2011).
Manila menjelaskan dirinya saat itu menolaknya dengan alasan itu tidak benar dilakukan.
"Bapak kenapa minta ganti? Apa gara-gara Bapak orang Makassar dan wasitnya dulu pernah bermasalah dengan PSM? Itu tidak boleh Pak, saya tidak mau. Itu yang saya bilang," katanya.
Lebih jauh Manila menceritakan, saat itu Wakil Presiden Jusuf Kalla juga seharusnya hadir, tetapi tidak memenuhi undangan menonton pertandingan tersebut. "Saat itu, JK juga seharusnya hadir, tapi tidak datang," ungkapnya.
Manila menambahkan, Nurdin dan dirinya pernah berjanji agar tidak menceritakan pengaturan pertandingan yang dilakukan. Akan tetapi, karena Nurdin mulai macam-macam soal sepak bola, akhirnya Manila justru membuka aib tersebut.
"Saya sebenarnya diberi janji oleh Nurdin agar tidak ngomong soal ini, tapi sekarang dia macam-macam. Saya buka sekalian," katanya.
Seperti diketahui, saat PON berlangsung di Kaltim, kontingen Jawa Timur meraih emas di cabang sepak bola dengan mengalahkan Papua 1-0.
Akibat hasrat seksnya tidak bangkit, seorang oknum PNS Natuna, As alias Uyun (48) menganiaya kekasihnya, Nu (46) hingga babak belur. Penganiayaan itu terjadi di sebuah kamar di Hotel Pesona, Batu 8 beberapa waktu lalu.
PN Bantul, DIY, dalam sidang yang digelar pada hari Jumat menjatuhkan vonis denda kepada 15 wanita pekerja seks komersial yang diduga melakukan tindakan prostitusi.
Pemkot Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) berusaha mengurangi jumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) di kawasan setempat, dengan cara memberikan pelatihan keterampilan kepada para wanita tersebut.